Random

Anak perempuan itu.

anakperempuanitu.gif

Waktu itu pada tahun 1999 seorang anak perempuan pulang dengan detak jantungnya yang masih terpacu lebih cepat dari normal. Baju kaosnya lusuh dengan jerami-jerami yang menempel dan luka lecet di sekitar lengannya yang tak terasa waktu itu. Ia baru saja menghajar seorang anak laki-laki. Dan membuat luka berdarah di kepala anak itu. Sekumpulan anak-anak yang tadinya riuh menyorak-nyoraki perkelahian dua anak ini kini bubar senyap setelah anak perempuan membanting si anak laki-laki beberapa kali tak berdaya. Tangisan teriakan si anak laki-laki melengking pecah dan terkapar. Semua anak-anak kontan bubar dan meninggalkan tempat itu.

Si anak perempuan terduduk melamun didepan seember air keran kamar mandi belakang rumahnya dengan berbagai pikiran berputar-putar. Iya menanyai diri, kemudian membenarkan diri, juga merasa bersalah. Baru saja ia mengguyur secentong air diwajahnya. Terdengar seorang perempuan berteriak-teriak mengoceh dan suara tangis. Terdengar dari depan rumah. Rupanya perempuan itu adalah ibu anak laki-laki yang sedang berkoar-koar didepan orang tua si anak perempuan dengan menyeret anak laki-lakinya yang terluka karena ulah si anak perempuan.

Dari kamar mandi ia pelan-pelan berlari ke ruang tengah sampai ia dapat mengintip di balik pintu sumber suara. Ia sudah pasrah. Baru saja ia akan keluar untuk menyerah. Suasana sudah terdengar damai. Ibu dan anak laki-laki itu meninggalkan rumahnya.

Orang tuanya masuk kedalam rumah sesekali saling tatap bingung. Kemudian melihat anak perempuannya yang sudah pulang dari bermain. Mereka bertiga saling tatap. Tak ada sepatah kata dari mereka bertiga. Melihat luka-luka baret jerami di lengan anak perempuannya. Anak perempuan yang melempar pandangan bolak balik ke dua mata orang tuanya yang mulai berkaca-kaca.

Ayahnya hanya berkata. “Mandilah.”

Kini si anak perempuan yang telah usai mandi sedang meringis mulai merasakan perih di lengannya. Ia duduk diatas kusri anyaman bambu dan rotan sambil menatap luka-lukanya.

“Makanlah.” Ayahnya meletakkan semangkuk bakso kesukaan anak perempuan itu di depannya.

Anak perempuan itu pun makan.

—–TAMAT—-

 

Random

Pergi lagi :(

merantauPerpisahaan itu tak selalu menyedihkan. Ada perpisahan yang membuat seseorang justru merasa lebih damai. Seperti berpisah dari lingkungan yang merusak jiwa kita. Carilah terus lingkungan dimana kita dihargai dan menghargai. Dimana kita bisa berkreasi memberikan cipta dan karsa kita agar berguna untuk orang lain.

Tapi berpisah dengan kampung halaman itu rasanya selalu sedih. Sudah terlalu banyak memori. Dan yang membuat kita paling sedih tentunya kita berpisah dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Orang tua, saudara.. 😥

Dan alasan mengapa harus meninggalkan mereka adalah untuk membahagiakan mereka. Kedengaranya agak konyol memang. Tapi begitulah hidup.