Five robed wizards around an ancient glowing stone table with magical symbols
Random

Pertemuan

“Bertemu” adalah kesempatan acak takdir Tuhan.

Mungkin kamu pernah membaca Tere Liye – “Tentang Kamu” dan “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”. Dia menuliskan keadaan tersebut.

“Apakah takdir itu? Takdir adalah ketika dua garis kehidupan bertaut pada satu titik yang tepat, di waktu yang tepat, dengan alasan yang tepat.”

Ia sering menggambarkan bahwa tidak ada pertemuan yang kebetulan. Pertemuan dengan seseorang—bahkan yang hanya berlangsung beberapa detik—merupakan jaring-jaring peristiwa berskala besar yang sudah diatur presisi.

Kemudian dalam puisi Wisława Szymborska – Puisi “Love at First Sight” (Miłość od первого wejrzenia) ia menyiratkan untaian kata;

“Setiap pilihan telah dibuat untuk mereka / menjadi takdir yang belum mereka tahu… / Mungkinkah tiga tahun lalu / atau Selasa lalu / ada daun yang terbang dari bahu yang satu ke bahu lainnya?”

Ia menceritakan bahwa dua orang mungkin sudah berkali-kali berada di tempat yang sama, melewati pintu yang sama, atau memegang pegangan pintu yang sama tanpa saling tahu—sampai akhirnya “peluang” itu berbuah pertemuan.

Atau… Murakami dalam cerpennya – “On Seeing the 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning”

“Satu pagi di bulan April, di sebuah jalan kecil di distrik Harajuku, Tokyo, saya berpapasan dengan gadis yang 100% sempurna…”

Cerita ini mengeksplorasi betapa ajaibnya jika dari 8 miliar manusia di bumi, seseorang bisa berpapasan dengan “orang yang 100% sempurna” untuknya di sebuah sudut jalan di Tokyo—dan betapa rapuhnya momen tersebut jika dilewatkan begitu saja.

Bahkan yang lebih dalam membahasnya pada Perspektif Sains vs. Filsafat Modern

  • Alain de Botton (Filsuf & Penulis Essays in Love): De Botton membahas fenomena yang ia sebut “Takdir yang Diciptakan” (Fate Construct). Secara matematis, peluang kita bertemu satu orang tertentu dari miliaran orang sangatlah kecil. Namun, ketika pertemuan itu terjadi dan membawa dampak besar, otak manusia secara alami merangkainya menjadi sebuah cerita “takdir” untuk memberikan makna pada kebetulan statistik tersebut.
  • Richard Dawkins (Evolusionis & Penulis Unweaving the Rainbow): Dalam esainya tentang probabilitas keberadaan manusia, ia menulis bahwa peluang kita lahir dan bertemu dengan orang-orang di sekitar kita saat ini secara statistik jauh lebih kecil daripada peluang memenangkan lotre berturut-turut. Sains memandangnya sebagai keajaiban probabilitas, sementara sastra memandangnya sebagai takdir.

Jadi… Jangan pernah menyepelekan pertemuan baru dengan seseorang. Karena itu adalah takdir yang unik.

replace subject with a woman
Random

Lengah.

Lagi. Pelajaran untuk tak mencintai dunia itu hadir lagi.

Begitu aku lengah, saat itu langit menamparku.

Keduniawianku ini melekat sangat karena bahanku tanah.

“Kita tak perlu mencintainya secara berlebihan tapi hanya mengasihinya saja”. Harusnya begitu.

Tidak kusangka aku begitu menginginkannya sehingga saat kata belum begitu sulit aku terima.

Hatiku terasa beku, kaku dan gagu.

Beri aku waktu mencerna ikhlas yang kali ini.

Ya Allah…. Al-Latif.
Lembutlah padaku yang rapuh tanpamu ini.
Cintai aku dengan kelembutan Mu damaikan aku dengan penghiburan Mu.

Ya Allah, Al Qariib…
Selalu peluk aku jangan tinggalkan aku.

Update : 17 Juli 2026

Sesuatu yang pedih telah aku lalui. Namun kini, aku sudah kembali siap dengan takdir Allah. Tak ada satu pun yang telah aku lewati tanpa kasih sayang dari Rabb-ku, Allah Ar-Rahman.

Saat itu, karena lemahnya diriku, aku sampai mengalami mati rasa akibat kesedihan yang mendalam. Sesuatu terjadi secara fisik hingga menguras darah dari badan ini, namun anehnya, aku tidak merasakan sakit sedikit pun. Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut dengan emotional numbing—sebuah keadaan ketika kita merasa tidak bisa merasakan, mengenali, atau mengekspresikan emosi secara alami.

Aku sangat mengenal diriku; aku yang biasanya melihat jarum suntik saja sudah mau pingsan. Namun, saat terjadi hal yang lebih dari itu—ketika aku mengalami pendarahan hebat—bisa-bisanya aku tak merasakan sakit. Aku hanya menatap sendu dan sepenuhnya terfokus pada kesedihan.

Jika kalian pernah membaca tentang Gate Control Theory, aku telah melalui dan mengilhami teori itu secara langsung. Teori tersebut menjelaskan bahwa sinyal rasa sakit harus melalui sebuah “gerbang” di sumsum tulang belakang sebelum akhirnya sampai ke otak. Faktor psikologis seperti stres yang sangat tinggi, fokus pikiran, atau kondisi emosional yang traumatis dapat bertindak sebagai penutup gerbang ini.

Setelah melaluinya, aku baru menyadari hal itu. Masya Allah… Begitu luar biasa sistem tubuh yang diciptakan oleh Allah ini.