Lagi. Pelajaran untuk tak mencintai dunia itu hadir lagi.
Begitu aku lengah, saat itu langit menamparku.
Keduniawianku ini melekat sangat karena bahanku tanah.
“Kita tak perlu mencintainya secara berlebihan tapi hanya mengasihinya saja”. Harusnya begitu.
Tidak kusangka aku begitu menginginkannya sehingga saat kata belum begitu sulit aku terima.
Hatiku terasa beku, kaku dan gagu.
Beri aku waktu mencerna ikhlas yang kali ini.
Ya Allah…. Al-Latif.
Lembutlah padaku yang rapuh tanpamu ini.
Cintai aku dengan kelembutan Mu damaikan aku dengan penghiburan Mu.
Ya Allah, Al Qariib…
Selalu peluk aku jangan tinggalkan aku.
Update : 17 Juli 2026
Sesuatu yang pedih telah aku lalui. Namun kini, aku sudah kembali siap dengan takdir Allah. Tak ada satu pun yang telah aku lewati tanpa kasih sayang dari Rabb-ku, Allah Ar-Rahman.
Saat itu, karena lemahnya diriku, aku sampai mengalami mati rasa akibat kesedihan yang mendalam. Sesuatu terjadi secara fisik hingga menguras darah dari badan ini, namun anehnya, aku tidak merasakan sakit sedikit pun. Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut dengan emotional numbingāsebuah keadaan ketika kita merasa tidak bisa merasakan, mengenali, atau mengekspresikan emosi secara alami.
Aku sangat mengenal diriku; aku yang biasanya melihat jarum suntik saja sudah mau pingsan. Namun, saat terjadi hal yang lebih dari ituāketika aku mengalami pendarahan hebatābisa-bisanya aku tak merasakan sakit. Aku hanya menatap sendu dan sepenuhnya terfokus pada kesedihan.
Jika kalian pernah membaca tentang Gate Control Theory, aku telah melalui dan mengilhami teori itu secara langsung. Teori tersebut menjelaskan bahwa sinyal rasa sakit harus melalui sebuah “gerbang” di sumsum tulang belakang sebelum akhirnya sampai ke otak. Faktor psikologis seperti stres yang sangat tinggi, fokus pikiran, atau kondisi emosional yang traumatis dapat bertindak sebagai penutup gerbang ini.
Setelah melaluinya, aku baru menyadari hal itu. Masya Allah… Begitu luar biasa sistem tubuh yang diciptakan oleh Allah ini.