Book and Movie

The Odyssey

Baru banget pulang nonton The Odyssey langsung pengen bahas banget.

Pertama, sinematiknya. Ini personal ya… I emang suka banget sama semua filmnya Christopher Nolan. Film-filmnya dia tuh udah pasti cantik dah, enak dipandang mata, bikin betah. Mau kata cerita Malin Kundang juga kalau Nolan yang bikin saya tonton!

Filmnya Nolan tuh kayak ada nyawanya gitu lho, gimana sih bilangnya… Dia itu sutradara yang paling gigih menolak perekaman digital penuh. Teknologi yang dia pakai untuk pembuatan Odysseus ini kabarnya pakai kamera film analog berformat IMAX 70mm. Resolusi dan kedalaman warnanya jauh melebihi kamera digital biasa. Dalam kisah epik seperti Odysseus, luasnya lautan, megahnya Istana Ithaca, atau skala monster mitologi bakal terasa sangat grand dan nyata di layar raksasa.

Teknisnya saya gak begitu ngerti dah. Tapi yang pasti, pencahayaan dan pemilihan warna khasnya Pak Nolan ini emang gak pernah dibuat terlalu mencolok (saturated berlebihan). Dia cenderung memilih nada warna natural, elegan, dan agak earthy (nada warna bumi, batu, pasir, dan air laut). Jadi di mata tuh rasanya enak dan nyaman banget…

Kedua, tentunya ceritanya. Ceritanya mungkin kalian pernah dengarkan berulang-ulang atau versi atau sudut pandang yang lain kalian pernah tonton di Percy Jackson. Tapi yang ingin saya bahas adalah sisi filosofinya. Di usia yang sudah hampir menginjak kepala orang ini emang apa yang kita rasa dan karsa harus otomatis dapat memaknai wetzsseh! 🤧.

Ini cerita tentang perjalanan manusia menundukkan egonya sendiri.

Odysseus itu tokoh pemimpin yang memiliki kelebihan kecerdasan, tapi dia tersandung karena hubris—alias kesombongan. Ketika dia teriak dan menyombongkan namanya ke Cyclops, saat itulah badai hidupnya dimulai. Di sepanjang perjalanan pulangnya (Nostos), dia dituntut untuk melepaskan semua gelar rajanya, belajar jadi “bukan siapa-siapa”, dan memilih penderitaan yang nyata dibanding keabadian yang semu. The Odyssey itu cermin untuk kita semua: tentang bagaimana cara kita ‘pulang’ menemukan jati diri di tengah badai kehidupan.

Brave Ody VS Manipulated Ody

Bagaimana Kalau The Odyssey Sebenarnya adalah Kebohongan Terbesar Odysseus?

Mari kita berpikiran liar dan kritis sebentar. Odysseus itu terkenal sebagai raja siasat—pria yang merancang Kuda Troya dan pandai bersilat lidah. Bagaimana kalau semua cerita penderitaan di lautan, monster Cyclops, dan kutukan Poseidon itu cuma cover story buatan dia sendiri? Ingat Odysseus terkenal dengan julukan Polytropos (pria dengan banyak akal/manipulatif) dan Metis (kecerdikan yang batasnya tipis dengan kebohongan).

Munginkah setelah Perang Troya selesai, Odysseus sebenarnya cuma lelah jadi raja dan ingin menikmati kebebasan? Dia menjelajah dunia, bertualang dari satu wanita ke wanita lain, dan baru memutuskan pulang saat fisik masa tuanya mulai lelah. Apalagi pas tahu Telemachus, anaknya, sudah mulai berlayar buat mencari keberadaannya.

Agar kepulangannya disambut sebagai pahlawan—bukan suami yang kabur dari tanggung jawab—dia mengarang dongeng epik tentang betapa ‘menderitanya’ dia di jalan. Dan boom, sejarah mencatatnya sebagai pahlawan yang rindu rumah, padahal dia cuma pria tua yang pinter bikin alibi.

Konspirasinya seperti ini:

1. The Ultimate Cover Story (Skenario Kebohongan Terbesar)

Sebagai pengatur siasat Kuda Troya, Odysseus adalah seorang master manipulasi.

  • Daripada pulang mengaku, “Sayang, aku ketagihan petualangan, main perempuan, dan malas balik ke rumah selama 10 tahun,” dia menciptakan narasi epic: “Aku disiksa dewa Poseidon, ditawan dewi-dewi cantik yang memaksa aku tinggal, dan bertarung lawan monster mata satu!”
  • Siapa yang bisa memprotes kalau alasannya adalah “kehendak para dewa”? Ini adalah alasan terbaik untuk menutupi krisis paruh baya (midlife crisis) dan kebebasan yang sengaja ia ulur.

2. Narasi yang Dipaksakan Karena Telemachus

Di mitologi aslinya, Telemachus (anaknya) mulai berlayar mencari kabar ayahnya karena Istana Ithaca digerogoti para pelamar Penelope (istrinya).

  • Skenario Liar: Odysseus yang tadinya masih santai menikmati hidup dan bernostalgia dengan perempuan lain, mendadak “panik” saat tahu anaknya yang makin dewasa mulai mencium jejaknya dan bersiap menjemputnya.
  • Sebelum tertangkap basah sedang menikmati hidup tanpa beban, dia menyusun narasi skenario penderitaan agar saat bertemu Telemachus dan Penelope, dia tidak terlihat seperti suami/ayah yang kabur, melainkan korban takdir yang tragis.

3. Penelope: Tertipu atau Pretend to Believe?

Ini bikin dinamika hubungannya makin menarik:

  • Apakah Penelope yang sangat cerdas itu benar-benar percaya cerita fiksi suaminya tentang Cyclops dan Siren?
  • Atau Penelope sebenarnya tahu suaminya mengarang cerita, tapi memilih berpura-pura percaya demi menjaga martabat kerajaan dan keutuhan keluarga di masa tua mereka?

Hahaha menarik kan…. Selamat merenung di toilet.

Watched the movie? Leave ♡ rating here!”

← Back

Thank you for your response. ✨

Rating(required)

Book and Movie

Hola….

[update 31.12.22]

Haha, being consistent in writing seems difficult, right? It’s more about not being in the mood often. Hmmm. Oh, by the way, in 2022, I have a personal program for myself, which is to read books. One month, one book. So here, I will keep updating the books that I have read and maybe include the highlighted quotes from each book I read. 🦋

  1. Januari ⤕ Atomic Habit by James Clear
  2. Februari ⤕ The Poppy War by R. F. Kuang
  3. Maret ⤕ Emotional Intelligence by Daniel Goleman
  4. April ⤕ The Dragon Republic by R. F. Kuang
  5. Mei ⤕ Bicara Itu Ada Seninya by Oh Su Hyang
  6. Juni ⤕ Range by David Epstein
  7. Juli ⤕ Why We Sleep by Matthew Walker
  8. Agustus ⤕ Yang Belum Usai by pijarpsikologi.org
  9. September ⤕ Asyiah by Sibel Eraslan
  10. Oktober ⤕ Blink by Malcolm Gladwell
  11. November ⤕ Mendaki Tanggak yang Salah by Eric Barker
  12. Desember ⤕ Hidup Minimalis Ala Orang Jepang by Fumio Sasaki

Book and Movie

Homo Deus

 

20190201_0106045b15dTelah habis kubaca malam ini buku yang kubeli sebulan yang lalu. Karena sekarang  gak banyak waktu luang untuk menyempatkan diri membaca. Karena typically banget gue orang yang gak bisa berhenti kalo udah mulai baca. Ini buku emang udah jadi list hunt gue udah lama.

Oke intinya ini buku ditulis oleh seorang penulis Yahudi yaitu Yuval Noah Harari (kalau yang belum tahu dia siapa searching google aje), ini buku lama sebenernya 2015. Buku ini berdesas desus release ketika waktu itu gue lagi intents baca “Zealot” -Reza Aslan.

Seperti biasa metode baca gue emang “asas praduga bersalah” atau judgment lebih awal ketimbang memutihkan pikiran untuk menerima isi pikiran manusia. Kalau kalian tahu siapa seorang Yuval Noah Harari untuk kebanyakan orang Indon jaman sekarang ini sih langsung gak akan mau baca buku ini. Karena gue gak tau ya.. nuansa  pikiran manusia-manusia di Indon jaman ini kek punya warna yang jelas aja. Bukan warna-warna pastel atau warna-warna yang kalian gak kenal. Udah jelas sekai penggolongan orang-orang jaman ini. Especially in Indon ya.

Sebenernya gue udah bisa tebak arah dari isi buku ini. Melihat dari sosiologi penulis dan penegasan yang menggelitiknya. “Eh sadar gak sih kamu blablabla…” khas memang ulasan genre buku filsafat.  Sejauh ia memaparkan sejara-sejarah dan bagaimana ia mengulas kehidupan yang merupakan algorima. Gue rasa gak butuh kejelian khusus untuk menerima yang ingin ditonjolkan atau menyadarkan kita bahwa hey apakah kamu tau? Atau sudah sadar kah kamu? Apa kamu sepikiran gak sama aku, kalau satu faham yang sudah ada kini semakin cocok dan menguat di era ini. Faham itu adalah faham “HUMANISME”. Beriring usia bumi ini dan segala sejarahnya. Homo sapiens ini telah mencicipi berbagai macam bumbu-bumbu ideologi untuk bisa mempertahankan peradaban. Tapi saat ini manusia sudah mulai membuka ruang untuk faham ini, yang sebentar lagi akan dibagikan kesetiap darah baru hingga merasakan segarnya “humanisme”. Tak bisa ditolak, walau menyangkal dalam-dalam. Karena yang sedang sakau akan faham ini adalah manusia itu sendiri. Faham ini absolute bisa masuk disetiap sendi-sendi manusia dari ras apapun. Sebentar lagi, orang-orang sudah akan meninggalkan demokrasi, kapitalis, agama, dan faham-faham yang sudah usang dan tidak bertahan melawan perubahan zaman.

Dan kalau dipikir-pikir gue hanya ingin menimpali. “Noah! iya gue juga mulai merasakan hal yang sama. Di belahan bumi tempat gue berpijak juga gue mulai merasakan hal yang sama. Hampir mulai jelas gaungnya suara-suara atas nama humanisme itu menggugah di segala arah. Bahkan last last UU Penanganan Konflik Sosial yang baru saja di sahkan oleh wakil-wakil rakyat Indo di Senayan. Ini adalah bentuk dari humanisme yang kamu maksud itu sudah mulai mengrogoti. Seperti jamur di tempat yang lembab. Fungisidanya hanya orang-orang yang fanatik yang sebentar lagi akan luntur dan bertekuk karena termakan jamur humanisme itu sendiri. Atas nama kemanusiaan… kamu tidak dapat menyiksa perasaan seorang laki-laki  yang mencintai laki-laki lain halnya kamu tidak bisa menyiksa seseorang yang ingin mencintai Tuhannya”. Ya gitu dah poin itu aja yang masuk diotak gue humanisme tapi terlalu free (liar). Aku masih suka terkekang oleh agama Islam. Karena kekangannya menenangkan dan indah. Masih belum mampu merubah jalan dan cara pandang yang aku tempuh.

Baiklah. Sekian dulu udah jam 2:03 pagi, besok kerja.  Bye…