Culinary, Traveling

Aiq Nyet, Sesaot.

Malam itu 16 Juni ngobrol berdua dikamar sama sepupu Najmi.

“Kita kok gak jalan-jalan ya?”

“Emang Side mau kemana?” Tanya Najmi.

“Umm bonbin Suranadi masih ada gak sih?” Gue balik nanya.

Mengingat udah hampir lupa Suranadi sebelah utara atau selatan Narmada. Haha. Terbang ingatan jaman masih SD, mengenang-ngenang pas masih kecil pingin banget ngeliat gajah yang “nyata” kayak apa. Dulu Suranadi merupakan kebun binatang satu-satunya yang ada di Lombok. Bersama Mamiq (bapak) aku naik angkutan umum menuju Narmada. Dari Narmada kami melanjutkan perjalanan ke Suranadi menggunakan angkutan umum yang lebih kecil lagi kalau tidak salah. Dan diusia sekitar 8 tahun akhirnya saya bisa ngeliat gimana Gajah sesungguhnya. Yang tadinya cuma lihat di buku bacaan atau hanya sekedar mewarnai ilustrasinya di buku mewarnai.

“Owh. Ketempat yang pernah tiang datengin aja.” Najmi memecah pikiranku yang sedang menelusuri masa lalu. “Disana ada musholla bergaya arsitektur tionghoa. Terus side pernah ke Sesaot gak? Aiq Nyet? Utaranya lagi dari Suranadi. Yang pernah tiang posting di instagram”. Tambah Najmi.

“Ke Sesaot pernah… Tapi gak inget jelas ngapain. Oke besok pagi yuk!”. Tanpa babibu saya memutuskan untuk setuju jalan-jalan kesana.

“Tapi kita gak ke bonbin Suranadi lo.. Soalnya kayaknya udah gak terurus.” Najmi memastikan.

Ku iyakan dengan anggukan. Terpikirlah lagi diriku yang sekarang sudah tak setuju dengan kebun binatang. Ah sudahlah.. setiap orang mulai dewasa.

Pagi harinya dengan spontan (Uhuy) kami mengajak tetangga untuk ikut serta juga.

This slideshow requires JavaScript.

Musholla bergaya arsitektur tersebut tentunya punya sejarah. Bagi kamu yang ingin tau sejarahnya silahkan klik saja “LINK” <- tersebut. Berikut lokasinya :

Setelah dari musholla kami menuju tempat wisata hutan dan pemandian alam Aiq Nyet yang sebenarnya kami lalui ketika akan menuju Musholla Ar Ridwan tersebut.

Waw sesampai di Aiq Nyet badan kerasa kayak sehat banget udara hutan seperti mencuci paru-paru ini. Pemandangan hutan mahoni yang menjulang membuat hati dengan cepat mengingat Penciptanya. Indah. Te-ta-pi mata ae terganggu banget sama sampah beserak sekitar kedai-kedai para penjual yang ada di situs wisata ini. Asli ini pemandangan ganggu banget!! semoga pemerintah daerah bisa memikirkan bagaimana mengembangkan wisata ini dengan bijak.

This slideshow requires JavaScript.

Kedai sih pasti cocok banget disana tapi dengan penataan yang benar yang tidak merusak estetika alam yang udah syantiiikdari sononya. Because what?? karena kita yang udah cape-cape masuk hutan pasti laper juga dan butuh tempat buat memuaskan perut. Daaan sate bulayak disana enyaaaakkk ajiiiib dah!!!