Random

Degradasi.

Degradasi

Hari ini, saya menuliskan apa yang tebersit di kepala secara spontan. Catatan ini saya beri judul: Degradasi.

Inspirasi ini datang ketika melihat adik saya sedang mengerjakan tugas kuliah menggambar dengan tema degradasi warna. Menatap karyanya membuat pikiran saya melayang pada realitas media sosial saat ini. Mengapa warna politik yang muncul di linimasa kita hanya terbatas pada dua pilihan ekstrem: jika bukan “cebong”, ya “kampret”? Polarisasi ini terasa sangat terstruktur (by design) dan begitu sulit untuk diurai. Sungguh menjemukan.

Kita seolah dipaksa masuk ke dalam kotak yang sempit. Pilihannya mutlak: Anda harus menjadi “cebong”—atau setidaknya “cebong abu-abu” yang mendekati putih. Begitu pula sebaliknya; jika Anda tidak menjadi “kampret” tulen, pilihan Anda hanya digeser sedikit menjadi “kampret pucat”.

Apakah semua ini memang sengaja diciptakan? Wahai para elite global, apakah kondisi terkungkung seperti ini yang memang kalian inginkan? Semua ini tampaknya sengaja dirawat demi memastikan roda bisnis dan kepentingan kalian di dunia ini tetap berjalan mulus.

Leave a Reply